Di dunia jaringan modern, data seharusnya menjadi aset paling berharga. Namun kenyataannya, banyak organisasi justru menghadapi masalah sebaliknya—data memang ada di mana-mana, tetapi tidak ada yang benar-benar bisa dipercaya. Laporan terbaru dari EMA tentang Network Source of Truth (NSoT) untuk NetDevOps bahkan menunjukkan bahwa sekitar 80% tim jaringan merasa sudah memiliki NSoT, tetapi hanya 20% yang menganggapnya benar-benar efektif. Artinya, sebagian besar organisasi sebenarnya belum memiliki “sumber kebenaran” yang bisa diandalkan.
Salah satu penyebab utama kondisi ini adalah data yang terfragmentasi. Banyak tim IT masih menyimpan informasi jaringan di berbagai tempat, mulai dari spreadsheet, tools yang berbeda, dokumentasi manual, hingga pengetahuan individu. Akibatnya, data menjadi tidak konsisten, sulit diverifikasi, dan sering kali tidak up-to-date. Dalam lingkungan hybrid dan multi-cloud yang semakin kompleks, kondisi ini membuat proses seperti troubleshooting, perubahan konfigurasi, hingga automation menjadi jauh lebih sulit dan berisiko.
Masalah lainnya adalah kesalahpahaman tentang konsep NSoT itu sendiri. Banyak organisasi menganggap NSoT hanya sebagai dokumentasi kondisi jaringan saat ini, padahal konsep yang benar jauh lebih dalam. NSoT seharusnya merepresentasikan “intended state” atau bagaimana jaringan seharusnya berjalan. Dengan pendekatan ini, NSoT menjadi referensi utama bagi semua tim, standar untuk validasi perubahan, sekaligus fondasi untuk automation. Ketika NSoT dikelola dengan baik, seluruh sistem akan mengacu pada satu sumber data yang sama.
Peran NSoT menjadi semakin penting dalam pendekatan NetDevOps, di mana jaringan tidak lagi dikelola secara manual, tetapi sebagai bagian dari sistem yang terotomatisasi dan terintegrasi. Namun automation hanya bisa berjalan dengan baik jika datanya akurat, konsisten, dan terpusat. Tanpa itu, automation justru berpotensi memperbesar kesalahan. Karena itulah, NSoT menjadi fondasi utama yang mendukung berbagai proses penting, mulai dari troubleshooting yang lebih cepat, investigasi keamanan, hingga disaster recovery.
Seiring berkembangnya kebutuhan, pendekatan pengelolaan jaringan juga mulai berubah menuju konsep “network as code”. Dalam model ini, jaringan diperlakukan seperti software, di mana konfigurasi dapat diotomatisasi, perubahan bisa diuji terlebih dahulu, dan standar dapat diterapkan secara konsisten. Dalam konteks ini, NSoT berperan sebagai “source code” yang menjadi acuan utama. Dengan data yang terstruktur dan dapat diakses melalui API, tim IT dapat mengelola jaringan dengan cara yang lebih scalable dan terkontrol.
Namun, kenyataannya tidak semua implementasi NSoT berhasil. Banyak organisasi yang sudah membangun NSoT, tetapi gagal menjaga akurasi dan relevansinya. Hal ini biasanya disebabkan oleh kurangnya validasi data, tidak adanya proses update yang konsisten, serta keterbatasan integrasi antar tools. Tanpa proses sinkronisasi atau reconciliation yang berkelanjutan, NSoT akan cepat menjadi usang dan tidak lagi bisa diandalkan.
Untuk mengatasi hal ini, laporan EMA menekankan pentingnya pendekatan yang berkelanjutan. NSoT bukanlah proyek sekali jadi, melainkan sistem yang harus terus dijaga dan diperbarui. Data perlu divalidasi sejak awal, diintegrasikan dengan berbagai sumber seperti IPAM dan inventory, serta diperbarui secara otomatis. Selain itu, monitoring dan audit juga perlu dilakukan secara rutin untuk memastikan data tetap akurat.
Ke depan, peran NSoT bahkan akan semakin berkembang. Laporan ini juga menyoroti tren seperti penggunaan AI dalam NetOps, penerapan digital twin untuk simulasi jaringan, hingga model branching untuk menguji perubahan tanpa mengganggu sistem utama. Semua inovasi ini hanya bisa berjalan jika organisasi memiliki fondasi data yang kuat dan dapat dipercaya.
Pada akhirnya, EMA NSoT Report 2026 memberikan satu pesan yang sangat jelas: memiliki data saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah data yang benar-benar bisa dipercaya dan digunakan sebagai acuan. Tanpa itu, automation akan gagal, keputusan menjadi tidak akurat, dan risiko operasional meningkat.
Sebaliknya, dengan NSoT yang kuat, organisasi dapat mengotomatisasi jaringan dengan lebih percaya diri, mengurangi kesalahan, dan mengelola infrastruktur secara lebih strategis. Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak data yang kita miliki yang menentukan keberhasilan, tetapi seberapa akurat dan konsisten data tersebut dapat digunakan.
Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan efficientip indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
Hubungi kami sekarang atau kunjungi efficientip.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
